Sabtu, 18 Juni 2016

Referensi Dari Internet, Abaikan Persoalan Bahasa di Maluku



Ambon, Lira Maluku News.  Sejumlah  evaluasi  disampaikan  kepala kantor bahasa  Maluku   DR Asrif M.Hum  terkait  lomba menulis essay  kebahasaan dan kesusasteraan  tingkat mahasiswa tahun 2016.


Asrif yang ditemui   di ruang kerjannya,  Jumat( 17/6/2016)  menyatakan,  sebagian besar peserta yang berpartisipasi  pada   lomba tersebut, cenderung   menulis  model  makalah , padahal  semestinya essay  itu lebih   mirip dengan opini  

“Tetapi malah yang disertakan   dalam lomba tersebut   adalah  tulisan  yang lebih  mirip makalah, “kata Asrif.

Selain itu menurut Asrif,  banyak referensi yang di kumpulkan  oleh  para  peserta lomba, diambil dari internet,  sehingga banyak   permasalahan   yang  dibeberkan  adalah  kasus-kasus  yang terjadi di pulau  Jawa, padahal di Maluku ada banyak  study kasus  soal  kebahasaan yang layak untuk  diangkat.

Menurut  pria  lulusan program  magister Universitas  Indonesia ini ,  ada  tiga tema yang diangkat  bagi penulisan  lomba essay  yaitu Bahasa  dan  Identitas Maluku ,  Kesantunan Bahasa di Sosial Media,  seperti  Face book, Tweeter, Path dan sebagainya yang ketiga adalah , bagaimana menghidupkan sastra  sebagai ekonomi kreatif.

Dijelaskannya,  terkait   persoalan  bahasa dan identitas Maluku,  saat ini provinsi  Maluku memiliki 21 Bahasa Daerah   yang terancam  punah, sehingga akan  berdampak  menjadi suatu kerugian besar jika  hal itu terjadi.

Pasalnya hingga saat ini,  belum ada satu   kelompok manusia yang  bisa mencipta bahasa baru. “ Untuk itu, bahasa asli atau bahasa tanah yang telah di wariskan  oleh leluhur kita harus  tetap di lestarikan, “ ungkapnya.

Sementara   tema kedua,  yakni  soal santun berbahasa di media sosial adalah,  terkadang mahasiswa atau  generasi  muda   suka menulis sesuatu yang  bersifat Alay atau pun  kata- kata kasar  di media sosial seperti  Facebook , Path atau Tweeter .
                                                                                           
Padahal Dia tidak sadar,  apa yang ditulisnya di media sosial dibaca oleh ribuan orang, lebih banyak dari pada sekadar  dia  berbicara pada temannya di depan rumahnya.

“Harus disadari bahwa media sosial adalah wahana untuk memperbanyak mitra dan menjalin talisilaturahmi,“tandasnya.

Sementara tujuan yang ketiga adalah,  saat ini banyak penyair muda masih berpikir  bahwa profesi penyair sebagai hobby,  padahal semestinya Dia harus berpikir bagaimana bisa hidup dari profesinya itu.

“Bagaimana  mendapat duit  dari  menulis puisi,  bagaimana menulis naskah drama yang bagus , setelah  itu  dibayar dengan  layak,  sehingga  pulang bisa bawa duit buat anak isterinya, “ jelasnya.

Menurut penilaiannya, karya tulisan  yang dikirim oleh para peserta meski  ada yang terindikasi  merupakan  karya  plagiat dari  Internet  tetapi ada  juga yang baik.

Ditambahkan, sebenarnya tujuan dari diadakannya  lomba tersebut  adalah bagaimana peserta membangun kepercayaan dirinya lewat tulisan. 

“Tujuan kami adalah, seburuk apapun tulisan mereka,  kepercayaan diri yang harus ditonjolkan, sehingga dapat diperbaiki,“tambah Asrif. (Nic)  

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes