Jumat, 07 Juli 2017

Pemkab SBB Terkesan Tutup Mata Terhadap Pembangunan Peternakan



Proyek Peternakan Ayam Senilai 1, 8 Milyar, Tak Pernah Sampai ke Peternak


Lira Maluku News. Pemerintah kabupaten (Pemkab) Seram Bagian Barat (SBB) terkesan menutup mata dan tidak peduli terhadap pembangunan peternakan di wilayah itu.

Proyek Bappeda SBB tahun 2015/2016 senilai 1,8 milyar rupiah yang diperuntukan kepada peternak ayam, raib ditengah jalan dan tak pernah sampai ke tangan peternak. 

Akibatnya, peternak ayam di kabupaten itu merugi karena banyak dari ayam piaraan mereka yang mati. Kalaupun masih ada yang hidup, tidak produktif lagi.

Seperti yang dikemukakan Rusmina Silalahi (39), ketua kelompok peternak ayam buras pedaging Dusun Waihuang, kecamatan Seram Barat kepada media ini, Jumat (7/7/2017) bahwa dia dan kelompoknya merugi karena matinya sebagian besar ayam petelur akibat kekurangan pakan.

Hal yang sama juga diakui George Peea (44), ketua kelompok ayam petelur  Desa Eti, kecamatan Seram Barat, “Akibat kekurangan pakan ternak, banyak ayam petelur piaraan kami yang mati bahkan banyak juga yang kurus dan tidak produktif lagi,”ungkapnya.

Sebagai penanggung jawab, Bappeda terkesan melepas tangan dari tanggung jawabnya.  “Kelompok-kelompok peternakan ayam tersebut, berada dibawah pembinaan dan tangung jawab Bappeda kabupaten SBB. Namun dalam perjalanannya, Bappeda terkesan melepas tangan dari tanggung jawab mereka,”jelas mereka.

Buktinya, bantuan pakan ayam yang diberikan, tidak sesuai kondisi dan kebutuhan peternak. “Misalnya, pakan/makanan ayam untuk ayam Bangkok, diberikan kepada peternak ayam petelur. Akibatnya hasilnya tidak maksimal karena pakan yang tidak sesuai,”kata mereka.

Dicontohkan, dari 3.572 ekor ayam petelur sebelumnya, hanya tertinggal 400 ekor yang masih hidup, karena mati sebagian besarnya lantaran pakan/makanan yang tidak sesuai.

Padahal, proyek Bappeda SBB tahun 2015/2016 tersebut nilainya cukup besar yakni 1, 8 milyar rupiah, yang diperuntukan untuk pengadaan bibit ayam, pakan dan obat-obatan. Namun dalam kenyataannya, semua itu tidak pernah sampai ketangan kelompok peternak.

Kondisi itu sudah berlangsung sejak era kepemimpinan mantan Bupati SBB, Jacobus F Putileihalat. “Pembentukan kelompok-kelompok peternakan di SBB, dikuasai kerabatnya Regina Puttileihalat dan kroni-kroninya,”tambah mereka.

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes